Apa yang menjadi sebab adanya sejarah adalah karena adanya makhluk yang berakal yakni manusia. Dengan kekuatan akalnya manusia merubah, dan perubahan-perubahan itulah yang akan menjadi sejarah. Maka pertama, perubahan menjadi salah satu syarat terbentuknya sejarah. Dari perubahan manusia mencoba mempelajarinya untuk menentukan kehidupannya menjadi lebih baik.
Masa lalu sudah menjadi sejarah, masa kini akan jadi sejarah, dan masa depan juga akan menjadi sejarah. Syarat kedua terbentuknya sejarah adalah karena adanya waktu (jam, minggu, bulan, dan tahun). Artinya sejarah terjadi dalam ruang dan waktu tertentu. Dengan demikian apa yang membentuk sejarah itu adalah karena adanya pergulatan manusia sebagai agen (aktor) dan waktu dalam ruang.
Setiap manusia terlibat dalam ruang dan waktu. Individu-individu membentuk masyarakat, maka akan membentuk sejarah masyarakat itu pula. Misalnya dalam suatu wilayah terdapat masyarakat, mereka secara bersama-sama bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam masyarakat tradisional mereka bercocok tanam atau bertani dan sejenisnya untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.
Apakah kehidupan mereka berjalan dengan tenteram, dan damai? Tentu saja tidak! Waktu terus berjalan, melalui kekuatan akalnya manusia bukan saja memanfaatkan kebutuhan makanan dari alam secara langsung tetapi ia juga mencipta. Ini hanya salah satu saja dari sisi kebutuhan manusia. Ia berbeda dengan hewan, kebutuhan manusia tidak hanya sekedar makan, tapi ia juga membutuhkan aktualisasi diri, dan rekreasi.
Apa yang menjadi faktor manusia mencipta, yaitu karena adanya tantangan-tantangan baik tantangan dari alam ataupun dari manusia itu sendiri. Keadaan kemarau misalnya menjadikan masyarakat untuk membentuk irigasi pertanian. Adapun tantangan-tantangan dari manusia sendiri misalnya pencurian, dominasi dan lain sebagainya. Pertentangan (konflik) membentuk tatanan masyarakat baru dengan peradaban dan kebudayaan baru pula. Ia hidup-mati-dan terlahir kembali. Itulah sejarah.
Sejarah adalah pencapaian umat manusia untuk menuju pada kebaikan tertinggi bahkan kesempurnaan. Sejarah adalah pertentangan antara kebaikan dan keburukan. Sejarah terbentuk melalui dialektika proses dan tragedi. Suatu peristiwa akan menjadi sejarah jika ada pertentangan antara kebaikan dan keburukan. Misalnya, dalam sejarah Islam mencatat adanya konflik antara Habil dan Qabil. Terjadi pergulatan yang saling memusnahkan, namun kebaikan ditakdirkan sebagai pemenang.
Dengan demikian kita bisa menyimpulkan apa yang menjadi daya penggerak sejarah adalah kemauan untuk memperjuangkan kebaikan dan kebenaran. Mungkin saja tidak akan ada sejarah nasional jika tidak pernah ada upaya dominasi Barat terhadap Indonesia. Kebaikan dan kebenaran hakikatnya harus diperjuangkan. Dalam pemikiran ini manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan masa depannya kearah yang lebih baik. Nilai sejarahnya tergantung besar kecilnya dampak yang dihasilkannya, sehingga perlu untuk disebut sejarah agar menjadi daya penggerak pada situasi berikutnya.
