Apa yang membedakan manusia dengan hewan adalah agama. Jika manusia hanya sekedar makan, minum, tidur, maka ia tidak jauh bedanya seperti hewan.
Dalam hal ini, sebagai makhluk yang beragama Islam, ada tiga dimensi penting yang perlu kita pahami sebagai dasar dalam beragama Islam.
Tiga dimensi tersebut sebagaimana disebutkan oleh Jalaludin Rumi, dalam bukunya berjudul "Jalan Cinta Sang Sufi,".
Sayangnya banyak orang yang langsung menganggap dirinya seolah Sufi tapi pemahamannya terhadap jalan itu tidak ditempuh.
Tulisan ini akan saya jelaskan, semoga bisa membuka pemahaman kita, bagaikan melihat orang memakai baju tapi sesungguhnya ia telanjang.
Jalaludin Rumi Sang Sufi
Mungkin kita pernah mendengar nama tokoh yang satu ini. Jalaludin Rumi adalah tokoh sufi yang pemikirannya banyak menginspirasi kaum muslimin di masanya.
Jalaludin Rumi lahir di Balkh, sekarang Afghanistan pada tahun 604 Hijriyah atau 1207 Masehi. Ayahnya seorang Dai, ahli fiqih dan sekaligus seorang sufi.
Jalaludin Rumi mempelajari berbagai bidang keilmuan. Ia mempelajari tata bahasa Arab,
Ilmu persajakan, Al-Qur'an, fiqih, ushul fiqih, tafsir dan sejarah.
Tak hanya itu, ia juga mempelajari ilmu tentang doktrin-doktrin atau asas-asas keagamaan, teologi, logika, filsafat, matematika dan astronomi.
Karena keilmuannya tersebut ia menjadi seorang ahli hukum Islam menggantikan tugas-tugas ayahnya di usia 24 tahun.
Tiga Dimensi Ajaran Sufi Jalaludin Rumi
Tiga dimensi artinya ada tiga tahapan untuk menjadi seorang Sufi, dan ketiganya ini tak hanya harus dipahami, tapi juga harus diamalkan.
Tiga dimensi ajaran Jalaludin Rumi adalah Syariat, Thariqah dan Hakekat (kebenaran) atau ilmu, amal dan mencapai tuhan, atau teori praktik dan kesadaran spiritual.
Pertama kita akan membahas apa itu Syariat? kita mungkin sering mendengar tentang Syariat, tetapi pemahaman kita tentang syariah kadang sempit, padahal syariah itu sangat luas.
Jalaludin Rumi dalam bukunya Jalan Cinta Sang Sufi mengatakan Syariat adalah hukum, dalam pengertian lebih luas mencakup ilmu dan seluruh ajaran Islam.
Adapun Tharikah adalah Jalan yang ditempuh dalam mengamalkan Syariat, dan hakikat adalah keadaan batin serta maqom yang dicapai dalam perjalanan menuju Tuhan bersama Tuhan.
Rumi sendiri mengartikan Syariat sebagai pelita (cahaya). Pelita memerangi jalan, tanpa pelita kita tidak akan bisa berjalan. Ketika kita mendapati jalan maka kita sedang menempuh Thariqah, dan ketika telah sampai pada tujuan itulah hakikat.
Jalaludin Rumi menjelaskan dengan beranalogi bahwa Syariat ibarat ilmu tentang obat. Thariqah adalah pengobatan, dan Hakikat adalah kesehatan yang tak memerlukan keduanya.
"Syariat ibarat pelita; ia menerangi jalan, tanpa pelita kalian tak bisa berjalan. Ketika sedang menapaki jalan, kalian sedang menempuh Thariqah dan ketika telah sampai pada tujuan itulah hakikat," kata Rumi.
Menurutnya manakala seseorang telah melepaskan diri dari kehidupan dunia ini, terlepaslah ia dari Syariat, terlepaslah ia dari Thariqah, dan hanya hakikat. Syariat adalah ilmu Thariqat adalah amal dan hakikat mencapai Tuhan.
Jika Rumi mengatakan Syariat adalah pelita atau ilmu, maka dalam pokok ajaran Islam ilmu itu dibagi menjadi beberapa cabang yaitu ilmu tentang ketuhanan (aqidah), ilmu fiqih dan ilmu tasawuf.
Tuhan adalah sumber ilmu, baik ilmu tentang alam, manusia, dan tentang Tuhan sendiri yang dilimpahkan-Nya melalui wahyu Al-Qur'an dan Hadist. Jadi ilmu atau dimensi teoritis agama yang terpolakan dalam Hukum Tuhan meletakkan manusia dalam tata kosmos keseimbangan sesuai dengan kodrat dan seluruh tanggungjawab kemanusiaannya.
Dalam praktik atau Thariqah ilmu dan teori merupakan dua dimensi yang saling melengkapi yang diejawantahkan dalam bentuk amal melalui pelaksanaan Sunah Nabi-norma petunjuk Tuhan bagi seluruh perbuatan manusia.
Dengan demikian untuk menapaki jalan Sang Sufi maka harus menaati semua perintah dan larangan Tuhan. Secara khusus menempuh jalan Sufi Thariqah berarti mengikuti keteladanan Nabi, orang-orang suci, para syekh atau guru-guru rohani, mursyid.

