Iklan

 

Ilustrasi/pixabay.com

Kita berada di abad kemajuan, tapi apa itu kemajuan? Kemajuan itu ditandai dengan adanya "cara" atau teknik. Misalnya kemajuan cara berkomunikasi dari surat manual ke elektronik, cara membajak sawah yang awalnya menggunakan cangkul beralih ke traktor, cara berpakaian, cara menempuh perjalanan, misalnya dengan motor, mobil, kereta, dan lain sebagainya. Nah, itu adalah abad kemajuan, jadi yang dimaksud abad kemajuan yaitu ditandai dengan cara atau teknik melakukan, merubah dll. 

Jadi sebetulnya apa yang membedakan antara manusia satu dengan yang lainnya yaitu "cara". Dalam kajian filsafat disebut epistemologi yaitu bagaimana sesuatu itu dilakukan. Ketika "cara" untuk melakukan segala sesuatu sudah sedemikian rupa seperti sekarang ini, yang kemudian kita sebut sebagai modernisasi. Kemajuan merupakan keniscayaan, manusia, baik individu maupun masyarakat, akan terus berubah. 

Ternyata benar menurut teori evolusi, bahwa individu membentuk masyarakat, dan masyarakat akan berevolusi membentuk masyarakat baru, terus saja begitu membentuk sejarah. Pertanyanya adalah seberapa jauh kemajuan-kemajuan sekarang ini bisa menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan, seperti ketentraman, pemenuhan pangan, kesehatan, kemiskinan dan berbagai persoalan lainnya. 

Cara-cara yang dilakukan ternyata memberikan konsekuensi terhadap eksistensi kehidupan. Misalnya, sejak cara menempuh perjalanan dengan berjalan kaki digantikan oleh kendaraan bermotor, manusia harus menyediakan bahan bakar yang cukup. Maka upaya untuk mendapatkan minyak pun diperbesar, yang awalnya hanya 50 titik lahan pengeboran, misalnya, kini ditingkatkan menjadi ribuan hektar lahan untuk mencukupi kebutuhan. Akibatnya apa? Ekositem menjadi rusak, udara tercemar, kesehatan manusia terancam. 

Ini hanyalah salah satu dari banyaknya dampak kemajuan-kemajuan itu. "Cara" yang berkembang berdampak juga pada berbagai aspek kehidupan lainnya seperti budaya, politik, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Baik lingkungan alam maupun sosial memiliki hubungan timbal balik terhadap manusia. Yang penting untuk ditanyakan disini adalah bagaimana hubungan timbal balik antara satu dengan yang lainnya bisa seimbang, misalnya kita mempertanyakan peran ilmu pengetahuan karena dampaknya harus dijawab oleh ilmu pengetahuan itu sendiri yang telah menciptakannya.

Manusia membuat pengetahuan tentang cara (teknik, teknologi), maka disini ilmu pengetahuan tak lagi sekedar untuk memahami tetapi bagaimana caranya ilmu pengetahuan itu memberikam sumbangan yang sifatnya praktis. Ini sejalan dengan pendapat seorang filsuf Prancis Bacon, bahwa ilmu pengetahuan tak hanya memberikan pemahaman tetapi harus bisa menjawab masalah praktis dan tantangan-tantangan yang ada. Maka dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan dikawinkan dengan sains dan melahirkan berbagai teknologi. 

Tetapi, pengembangkan ilmu pengetahuan menemui berbagai kendala dalam memproduksi masyarakat baru yang lebih berkualitas. Hal ini disebabkan karena krisis pengetahuan, krisis moral dan krisis psikologi dan maknawi (Nur Al-Huda, 2013). Apa penyebabnya? Penyebabnya adalah cara atau teknik atau teknologi. Keberadaan teknologi menggeser peran atau hakikat manusia sebagai subjek. Belum lagi, konsumerisme terhadap simbol, membawa kemunduran kepada manusia (masyarakat) yang tak terhindarkan yang pada akhirnya menciptakan krisis pada masyarakat itu sendiri.

Meskipun kit tidak merasakan keadaan masyarakat zaman dulu, tapi banyak orang yang mengatakan bahwa kehidupan manusia masa kini berbeda dengan kehidupan manusia zaman dulu. Kemajuan ilmu dan teknologi disebut-sebut telah mengubah bentuk kehidupan manusia secara keseluruhan yang mampu mempersembahkan kesejahteraan dan kesenangan dohir baginya. Tetapi dalam waktu bersamaan, menurut pengakuan dari pengamat psikologi dan sosiogi, seiring kemajuan pengetahuan dan teknologi tersebut manusia juga menghadapi berbagai masalah berupa krisis-krisis kejiwaan baru yang membuatnya melarikan diri. 

Di kampung saya dulu pernah ada kejadian seorang remaja yang gila gara-gara ingin motor. Dia seorang remaja SMA meminta dibelikan motor kepada orang tuanya, tapi karena orang tuanya belum punya uang, keinginan anaknya tersebut tidak segera dikabulkan. Akhirnya ia melamun, dan karena belum bisa mengontrol kejiwaannya alhasil dia sekarang sakit jiwa alias stress. Ini bukan mitos, sebagian masyarakat memang sudah mempercayai bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh keinginan yang tidak terpenuhi. 

Meski demikian, kasus ini bukan satu-satunya kasus yang pernah terjadi di kampung saya, dalam kasus yang mirip juga banyak terjadi di era sekarang ini. Bahkan sebagian kasus termasuk dalam kejahatan atau kriminal. Di berita televisi ada anak yang membunuh orang tuanya gara-gara keinginannya tidak dipenuhi. Di media sosial, kita melihat remaja pamer tubuh demi viral agar mendapatkan uang. Banyak kemajuan-kemajuan diera sekarang namun justeru secara bersamaan membawa kemunduran masyarakatnya. 

Sampai disini kita menemukan fakta bahwa kemajuan-kemajuan secara tak sadar telah membawa masyarakat pada era kemunduran. Hal ini ternyata sejalan dengan teori gerak mundur dan teori pengulangan abadi dalam sejarah (Maiwan, 2013). Menurut teori ini, sejarah sesungguhnya bukanlah bergerak maju, melainkan bergerak mundur. Menurut teori ini, kemajuan yang dicapai oleh manusia ini hanyalah kamuflase yang justru membalikkan mereka pada tantangan baru yang lebih hebat, di mana hal tersebut sesungguhnya merupakan gerak mundur dalam sejarah.

Meskipun dalam banyak hal secara fisikal dan material manusia mengalami pencapaian-pencapaian besar, namun secara kualitas sesungguhnya mereka mengalami kemunduran hidup. Hal itu juga ditandai dengan munculnya berbagai macam gejala seperti lemahnya moralitas, makin lunturnya kepercayaan pada agama, rendahnya solidaritas, meningkatnya kriminalitas, menurunnya mutu lingkungan, dan adanya penyakit-penyakit sosial kehidupan sebagai dampak teknologi. 

Ada yang mengatakan bahwa saat ini, peperangan menggunakan senjata seperti perang dunia satu dan perang dunia dua sudah tidak akan lagi dilakukan. Perang di era sekarang ini menggunakan strategi kebudayaan, seperti pendidikan, kesenian, budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Strategi kebudayaan dianggap paling permanen untuk memisahkan masyarakat dari peradabannya. Sedangkan perang, yang melibatkan fisik sudah tidak akan digunakan. Penyataan itu mungkin bisa saja benar, tapi mengatakaan perang fisik tidak akan terjadi itu sangat mustahil, bahkan peperangan bisa terjadi lebih ngeri daripada sebelumnya.

Bagaimana manusia sekarang bisa hidup tenang? Sementara negara-negara besar secara terus menerus menambah kemampuan nuklirnya, serta berbagai senjata pemusnah massal lainnya. Mekipun manusia memiliki kemampuan dalam menanggulangi penyakit, ia tidak mampu mendeteksi secara sempurna munculnya penyakit baru yang bersifat degenaratif dan mematikan, seperti Aids, Covid-19 dan virus-virus mematikan yang lainnya yang katanya tersebar lewat berbagai jenis hewan. 

Ini semua merupakan ancaman terhadap kualitas hidup di tengah klaim bahwa manusia semakin maju dan beradab. Peperangan dan konflik antar bangsa juga semakin meningkat, juga berbagai macam tindak kekerasan yang bersifat internasional yang melibatkan pemakaian senjata dan teknologi modern. Problem sosial lainnya yang sulit ditangani, seperti; makin bertambahnya penduduk, menurunnya kualitas lingkungan, berkurangnya air bersih, hilangnya hutan, tercemarnya laut, juga menjadi ancaman yang mematikan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama