![]() |
| Ilustrasi |
Kita harus menghindari berpikir keliru, karena kekeliruan dapat menjerumuskan kita pada kesesatan pikiran dan ketidakbenaran.
Kekeliruan berpikir berarti kecacatan logika berpikir. Apabila suatu pernyataan awal salah, maka kesimpulannya pun dipastikan akan salah.
Misal, makhluk hidup adalah abadi. Pernyataan ini logika yang salah, karena setiap makhluk hidup tidak ada yang abadi dan akan mati.
Contoh lain misalnya, semua mahasiswa jurusan pendidikan akan mengajar. Ini juga salah, karena mahasiswa jurusan pendidikan belum tentu akan ngajar.
Ini hanyalah contoh sederhana dari pernyataan yang salah. Tapi ada juga pernyataan awalnya benar tapi pada kesimpulannya salah.
Misalkan, semua makhuk hidup memerlukan makanan. Batu adalah makhluk hidup. Nah ini juga logika salah, seharusnya bukan batu, tapi makhluk hidup, misalnya; sapi, kambing, manusia atau yang lainnya.
Kekeliruan berpikir bisa terjadi karena kurangnya pemahaman, namun memaksakan untuk mengungkapkan qpa yang ada dalam pikirannya padahal salah.
Menurut Islam berpikir merupakan bagian dari ibadah. Berpikir perlu kehati-hatian. Al-Quran mengajak manusia untuk berpikir benar dan menarik kesimpulan.
Sementara itu, Albert Einstein mengungkapkan bahwa berpikir dan memikirkan adalah suatu kenikmatan yang luar biasa.
Berpikir itu adalah nikmat yang tuhan berikan kepada manusia. Hanya dengan berpikirlah ia bisa memilih keputusan yang terbaik dari yang baik, memilih baik dari yang buruk.
Murtadha Muthahari dalam bukunya _Manusia dan Alam Semesta_ mengungkapkan, bahwa Al-Quran tidak mau kalau orang mempercayai Al-Quran sekedar doktrin bukan dari hasil berpikir yang benar.
Penyebab Berpikir Keliru
Muthahari mengatakan kekeliruan berpikir disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, bersandar pada prasangka bukan pada pengetahuan yang pasti. Allah berfirman;
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban," (QS. al-Isra:36).
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang, niscaya mereka akan menjauhkanmu dari jalan yang benar. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka," (QS. Al-An'am: 16).
Persangkaan merupakan penyebab utama kekeliruan. Seorang bapak filsuf modern Rene Decrates pernah mengatakan;
"Aku baru menganggap sesuatu itu sebagai realitas kalau sesuatu itu sudah jelas bagiku. Aku tak mau ketergesaan, menghubung-hubungkan gagasan dan kecenderungan. Aku hanya menerima apa yang sudah jelas, sehingga tak ada lagi keraguan tentangnya,"
"Kebenaran berasal dari keragu-raguan," katanya. Maka ragukanlah segala sesuatu itu hingga kita mendapatkan kebenaran yang pasti.
Kedua, hawa nafsu. Hal ini sebagaimana firman allah dalam al-Quran; "Mereka hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diingini hawa nafsu mereka," (QS. An-Najm:23).
Maksudnya adalah melakukan pembenaran terhadap sesuatu yang salah. Melebih-lebihkan sesuatu tanpa bersikap objektif terhadap bukti-bukti yang ada.
Mengatakan kebenaran haruslah didasarkan pada penyelidikan yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan karena prasangka atupun nafsu belaka.
Ketiga, tergesa-gesa. Untuk mengemukakan pendapat tentang suatu persoalan kita harus memiliki bukti yang memadai. Jangan langsung gampang menyimpulkan jika pendapat kita belum memiliki bukti yang kuat.
Berpikir tergesa-gesa terhadap suatu persoalan bisa menimbulkan argumen yang salah. Dalam arti lain pendapat yang tergesa-gesa berpotensi menjadi dusta, karena belum memiliki bukti-bukti yang kuat.
Keempat, berpikir tradisional dan melihat ke masa lalu. Apa yang dilakukan masa lalu, tentu tidak selalu relevan dengan kondisi sekarang.
Al-Quran mengingatkan agar manusia berpikir independen, tidak menerima apapun tanpa menilainya dengan seksama.
Kelima, memuja tokoh. Tokoh yang dimaksudkan disini adalah tokoh yang dihormati, tokoh sejarah, tokoh kontemporer yang termasyhur mempengaruhi pikiran dan kehendak orang.
Sesungguhnya tokoh-tokoh terkenal memgendalikan pemikiran orang. Orang berpikir seperti pikiran tokoh, hingga ia kehilangan kemerdekaan berpikir dan berkehendak.
Al-Quran menyerukan kepada kita agar jangan membabi buta mengikuti orang-orang tua, karena berbuat demikian ada kemungkinan kita akan mendapat nasib buruk.
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami berjalan yang benar," (QS. Al-Ahzab:67).
.jpg)