Iklan

Ilustrasi

Sekali-kali kita harus mengingat kembali sejarah bangsa kita dulu, meskipun katanya Indonesia itu baru ada secara politik setelah diproklamasikan kemerdekaanya pada 17 Agustus 1945. Indonesia menjadi sebuah negara (nation-state) adalah baru, sehingga apa yang terjadi di masa lalu bukanlah negara Indonesia. Demikian diskusi saya dengan dosen saya Dadan Sudjana, dulu.

Saya sepakat dengan ungkapan demikian itu, tapi yang terpenting bagi kita menurut saya adalah bagaimana kita mempelajari proses bangsa-bangsa yang akhir kemudian menjadi sebuah negara yang bersatu-berdaulat bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tak hanya bangsanya yang bersatu, tetapi wilayah yang berpulau-pulau, budaya yang berbeda, agama, cara pandang yang berbeda pula, itu bisa bersatu. 

Melihat kembali bangsa Indonesia yang berbeda tapi bisa bersatu inilah yang saya rasa Indonesia adalah sebuah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang patut kita syukuri. Para founding father menyadari hal ini tentu saja harus kita sadari pula sebagai generasinya. Sebagaimana dalam pembukaan UU Dasar1945, yang dituliskan bukanlah hasil perjuangan mereka "atas keinginan luhur" tetapi kalimat pertama yang dituliskan "Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa,". Sebuah perjuangan dari doa dan ikhtiar. 

Ya, founding Father kita, mereka semua tak hanya cerdas, tetapi juga luhur budi dan akhlaknya. Indonesia bisa merdeka mengorbanan harta benda, jiwa dan raga, lantas tidak menjadikan mereka sombong atas usaha yang telah dicapainya, mereka begitu tawadhu (tidak menyombongkan diri) dalam memaknai perjuangan kemerdekaan, bahwa pertama-tama bukanlah atas keinginan untuk berjuang, tetapi atas kehendak Allah SWT mengapa Indonesia bisa merdeka. 

Makna Indonesia Setelah Proklamasi Kemerdekaan

Indonesia baru memiliki makna kongkrit secara politik ketika ia menjadi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat pada tanggal 17 Agustus 1945. Itu pun harus berjuang kembali melalui diplomasi dan mempertahankan kemerdekaan dari gempuran tentara Belanda. Sebelum proklamasi kemerdekaan ia masih harapan dan cita-cita, tapi seperti yang sudah disebutkan di atas sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945 bahwa atas "berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur" Indonesia merdeka. 

Selama lebih dari setengah abad merdeka hingga sekarang, bangsa Indonesia sudah memiliki tujuh orang presiden, selain daripada itu juga Indonesia pernah sewaktu Indonesia darurat dipimpin oleh Mr. Syafrudin Prawiranegara. Soekarno dan Soeharto pernah dianggap sebagai bapak bangsa berlaku tirani pada akhir pemerintahannya. Soekarno sempat dinyatakan sebagai sebagai presiden seumur hidup, sedangkan Soeharto merekayasa pemilihan umum sebanyak tujuh kali sehingga berkuasa selama 32 tahun berturut-turut.

Makna secara geografis bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan komposisi dan kontruksi yang indah berjejer pulau-pulau mulai dari pulau Sumatera, Jawa Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Jaya. Dulu bangsa yang mendiami pulau-pulau Indonesia tersebut masih berada dibawah kekuasaan kerajaan. Sejarah Indonesia mencatat bahwa ada tiga kerajaan besar utama sebagai leluhur bangsa Indonesia yakni Sriwijaya, Majapahit dan Mataram Islam. 

Bendera Nasional Indonesia adalah bendera merah putih yang sejak zaman Majapahit telah dikibarkan oleh Mahapatih Gadjah Mada di Sorong Irian Jaya, sedangkan lagu kebangsaan adalah Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolof Suoratman, yang untuk pertama kali diperdengarkan ketika Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta saat Indonesia belum merdeka. Sementara itu lambang negara adalah Burung Garuda yang menoleh ke kanan, berkalungkan perisai Falsafah Pancasila dan menggenggam pita bertuliskan "Bhineka Tunggal Ika". 

Secara keseluruhan pulau-pulau Indonesia berjumlah 13.667 buah, pulau besar dan kecil. Luas seluruhnya adalah 1.904.569 kilometer bujur sangkar, atau bila diukur jarak dari sabang sampai merauke lebih kurang 5.110 kilimeter, sedangkan jarak dari Talaud sampai Nusa Tenggara Timur adalah lebih kurang 1.888 kilometer (Syafiie, Inu Kencana, 2008). Indonesia juga diapit oleh dua benua yaitu Australia dan Asia, serta dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik sehingga akan memajukan perdagangan.

Inspirasi Kejayaan di Masa Lalu

Kemerdekaan Indonesia sesungguhnya terletak pada tekad kuat para founding father saat itu. Perjuangan itu tentunya juga tidak lepas dari peran sejarah sebagai inspirasi dan motivasi yang membentuk jiwa semangat dan keyakinan mereka. Sejarah menjadi daya penggerak bahwa kehidupan tidaklah tunduk pada suatu keadaan tetapi harus dirubah dan diperjuangkan yaitu dengan pengorbanan. Kaitannya dengan sejarah para founding father kita telah belajar dari kejayaan kerajaan-kerajaan dimasa lalu. 

Hukum daripada perubahan (revolusi) itu adalah hasil dialektika. G.W.F Hegel dalam teorinya tesis, antitesis dan sintesis menjadi peletak dasar bahwa harus ada dialektika. Menurut saya ini adalah hukum perubahan, misalnya manusia akan memiliki keturunan jika kelamin laki-laki dan perempuan bertemu, sedang jika keduanya adalah laki-laki, maka tidak akan akan memiliki keturunan. Dalam contoh ini artinya tesis (perempuan) antitesis (laki-laki) dan sintesisnya adalah anak dari hubungan laki-laki dan perempuan.

Dalam konteksnya Indonesia tesis (penjajah) antitesis (perjuangan) dan sintesis (kemerdekaan). Bung Karno pernah menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Ungkapan ini memiliki makna dalam, dimana kita harus belajar sejarah dan menjadikan kejayaan dimasa lampau sebagai inspirasi untuk kejayaan dimasa depan. Gadjah Mada pernah bercita-cita menyatukan Nusantara, terinspirasi dari itu juga maka Indonesia bersatu. Bayangkan, bangsa yang berbeda dan dipisahkan oleh jarak dan lautan, komunikasi yang sulit dimasa itu tapi bisa bersatu, ini adalah anugerah dan pencapaian sangat luar biasa. 

Kenyataanya hari ini memang Indonesia adalah sebuah bangsa yang besar. Melihat potensi yang ini, Indonesia juga perlu belajar kembali dari sejarah. Untuk apa,? Untuk mempelajari kesalahan dimasa lalu yang menyebabkan kerajaan besar dulu berjaya kemudian runtuh. Pelajarannya adalah kesalahan apa yang bisa membuat kerajaan Sriwijaya dan Majapahit hancur, maka kita menjadikannya sebagai ibroh agar tidak terulang kembali, sedangkan kejayaannya bisa dijadikan pelajaran untuk menemukan strategi apa yang bisa dijadikan pelajaran untuk mengulang kejayaan dimasa itu. 

Majapahit sudah berdiri ratusan tahun tahun demikian pula Sriwijaya, kedua negara itu mengalami kejayaan pada masanya sampai kerajaan Kertanegara pun berani menentang raja Mongol penakluk dunia masa itu. Dibandingkan dengan keduanya Indonesia modern masih kalah banyak dari segi wilayah, kata sebagian sejarawan. Majapahit punya pengaruh lebih luas, sampai ke negeri Kamboja. Persamaan antara Majapahit, Sriwijaya, dan kerajaan Singosari dengan NKRI adalah sama-sama selalu ada rakyat di daerah kekuasaannya (baca jajahannya) waktu itu yang memberontak mencari kesempatan pada saat negara dalam keadaan lemah atau lengah.

Seorang Filsuf Spanyol pernah mengatakan mereka yang tidak pernah belajar sejarah dikutuk untuk mengulanginya. Pernyataan ini tentu saja sebuah motivasi agar kita harus belajar sejarah. Pilihannya adalah dua, NKRI bubar seperti kerajan-kerajaan dimasa lalu, atau bertahan dengan belajar sejarah agar kesalahan dimasa lalu tidak terulang di era sekarang, bahkan kita bisa mencapai kejayaan juga. Belajar sejarah mungkin saja bukanlah faktor materi tapi pencapaian kemajuan-kemajuan itu sesungguhnya karena dorongan jiwa yang menghasilkan keinginan dan komitmen kuat.  

Kita patut bangga karena memiliki sejarah yang luar biasa dimasa lalu. Namun, sejarah kejayaan tersebut tidak akan berguna apabila kita berhenti mempelajarinya. Tapi sebaliknya, apabila kita berhasil mengambil pelajaran dari kejayaan dimasa lalu itu bukan tidak mungkin Indonesia saat ini bisa mencapai kejayaannya seperti halnya Majapahit, dan Sriwijaya. Indonesia tak hanya bisa menyaingi negara-negara kawasan Asean, tapi optimisnya Indonesia bisa berdiri sejajar dengan negara super power seperti Amerika dan Cina. 

Meskipun tulisan ini hanyalah sebuah opini, tapi sejarah menurut hemat saya adalah guru yang memberikan pengalaman nyata. Samuel P. Huntington dalam bukunya Benturan antara Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia menegaskan, ia mengakui dengan jelas bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bahkan ia mengisyaratkan apabila bangsa Indonesia dapat mengambil peran yang semestinya baik di kalangan dunia Islam, maupun Asia, maka Indonesia akan menjadi negara inti bagi dunia Islam dan negara kuat yang berpotensi untuk mengelaminir pengaruh Cina di Asia, bahkan dunia. Hal ini artinya menurut saya Indonesia menjadi negara super power. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama