Iklan

Membahas wawasan kepemimpinan berarti membahas tentang bagaimana cara pandang kita terhadap makna kepemimpinan. Kepemimpinan ada dalam setiap kehidupan kita, ia tidak terbatas dan melekat pada diri kita baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Maka kita bertanya apakah kepemimpinan itu? dan siapakah pemimpin itu? pertanyaan ini mengingatkan kita pada salah satu hadist tentang kepemimpinan, yang mana bahwa setiap orang adalah pemimpin. 

Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya,” (HR Bukhari).

Berdasarkan hadist tersebut, saya akan menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin. Pemipin itu universal (menyeluruh) berlaku untuk siapa saja dan dimana saja yang artinya tidak terbatas baik itu pada ruang lingkup organisasi, pemerintahan, maupun atasan, bawahan, tetapi juga dalam semua hal, karena yang dimaksud memimpin dan kepemimpinan adalah soal tanggungjawab sesuai fungsinya masing-masing. 

Peran dan fungsi inilah yang membedakan antara manusia satu dengan manusia lainnya bukan hanya soal status sosial, tapi juga tugas dan fungsinya. Teori struktural fungsional mengatakan sepanjang sesuatu itu memiliki fungsi maka ia berguna, bahkan termasuk kemiskinan ia memiliki fungsi karena menjadi alasan orang kaya memberi. Jadi menurut hemat saya, pemimpin itu proporsional, seperti dalam hadis tersebut, seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya, begitu juga seorang tukang tambal, ia terhadap terhadap fungsinya.

Ya, kepemimpinan menurut saya terletak pada tugas dan fungsinya, jadi apapun status sosialnya di masyarakat, kita adalah seorang pemimpin dalam status tersebut. Presiden adalah pemimpin bagi rakyat, dokter adalah pemimpin bagi pasiennya, guru adalah pemimpin bagi murid-muridnya, semua orang adalah pemimpin di bidangnya masing-masing. Jika semua seorang adalah pemimpin maka lakukanlah tugas dan tanggungjawab kita sesuai fungsi kita dan jangan sampai keluar dari apa yang seharusnya.

Ekseskutif ( seperti Presiden dan psra Menteri) harus menjalankan tanggungjawab sesuai fungsinya, legislatif (misal DPR dan DPD) juga harus bertanggungjawab terhadap tugas fungsinya, begitu pun yang lainnya, bupati, kepala desa, pedagang, kepala sekolah, guru dan lain sebagainya. Misalnya di sekolah, kepala sekolah maka kepala sekolah haruslah bertindak sebagai kepala sekolah, jika guru maka bertindaklah sebagai guru, jika staf maka bertindaklah sebagai staf, jika office boy maka bertindaklah sebagai office boy, jangan sampai terbalik.

Kita mungkin sering menemukan model seperti itu di masyarakat, organisasi atau mungkin di tempat kita bekerja. Pimpinan seperti bawahan, dan bawahan seperti pimpinan, kemudian ditambah tidak ada evaluasi. Profesionalisme adalah sekat tugas dan fungsi tersebut. Apabila hal tersebut dibiarkan tentu akan timbul hubungan yang kuarang harmonis, saling mencurigai, kecemburuan bahkan membenci satu sama lain. Hal ini bisa saja terjadi apabila tidak segera disadari, untuk itu disinilah perlunya wawasan kepemimpian, agar memperluas cara pandang kita, membuka cara berpikir kita terhadap makna kepemimpinan. 

Selain daripada itu, karena kepemimpinan sifatnya tak terbatas, kepemimpinan juga tidak memandang kelas sosial, kaya, miskin, atasan, bawahan, pada dasarnya ia adalah pemimpin bagi dirinya dan fungsinya. Dan wawasan kepemimpinan itu sendiri berperan untuk membentuk kepribadian kita. 

Apakah kita sudah menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri? terus mengarahkan, membina dan mengembangkan jiwa dan raga kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, cerdas, jujur, berkahlak dan lain sebagainya. Jika belum mari kita terapkan kepemimpinan itu berawal dari dalam diri kita sendiri, kemudian kepada keluarga kita, dan saudara-saudara kita.

Sesungguhnya kepemimpinan dalam struktur sosial dipengaruhi kepemimpinan dalam diri individu secara personal. Jiwa kepemimpinan itu sendiri adalah karakter dan kepribadian kita, maka semuanya harus berawal dari diri sendiri. Jika kepribadian kita baik, maka kepemimpinan kita juga baik, begitu pula sebaliknya apabila kepribadian kita buruk maka kepemimpinan kita juga akan buruk. Artinya kepemimpinam adalah soal karakter, tapi sebelum menjadi karakter ia harus mendapatkan pembinaan melalui pendidikan. Pendidikan akan tetap menjadi satu proses dalam mewujudkan calon-calon pemimpin terbaik dimasa depan.

1 Komentar

Suyati Binyo Purbalingga mengatakan…
Setiap kita adalah pemimpin yang harus mempertanggungjawabkan apa yang kita pimpin.
Lebih baru Lebih lama