Iklan

ilustrasi/pixabay.com

Persoalan mahasiswa dan dosen tidak pernah ada hentinya untuk diperbincangkan. Mahasiswa adalah sebagai pelajar dan dosen adalah sebagai engajar. Istilah itulah yang sering kita dengar dari zaman dulu hingga sekarang. Mahasiswa adalah manusia dan dosen adalah manusia. Yang membedakan mahasiswa dengan dosen adalah pengalamannya seperti pengalaman intlektual, pengalaman emosional dan pengalaman spiritual. Namun pegalaman-pengalaman yang tadi saya katakan adalah pengalaman dosen secara idealisnya. Faktanya masih banyak dosen yang kurang berpengalaman umpamanya karena kurang bergaul selama menjadi mahasiswanya.

Mahasiswa datang ke kampus dengan mendaftarkan dirinya mempunyai harapan yang tinggi, harapan terhadap fakultas yang diambilnya ataupun harapan terhadap dosen yang dia nggap mampu menjadikannya menjadi mahasiswa yang terdidik. Berdasarkan hasil diskusi saya dengan kawan-kawan mahasiswa banyak dari mereka yang menaruh harapan terlalu tinggi terhadap  dosennya sehinga dosen ini dijadikan sebagai  figur tettinggi dalam mengembangkan intelektual. Padahal  persoalan intelektual sudah sering kali kita mendengar bahwa pengetahuan yang kita dapatkan di kampus hanyalah 30%  dari 100%. Namun lagi-lagi mahasiswa dibutakan oleh hal itu.

Mahasiswa haruslah berfikir orientasi ke depan, melalui kebebasan berfiirnya secara radikal  terhadap persoalan. Seluruh mahasiswa dan seluruh civitas akademik di kampusnya masing-masing memiliki visi yang sama yaitu memajukan kampusnya melalui suber daya mahasiswa yang di milikinya. Namun bukan berarti membatasi kegiatan mahasiswa apalagi mengancam dengan nilai. Ini gak lucu. Mahasiswa  mempunyai kebebasan dalam belajar. Istilah belajar bagi mahasiswa bagi  saya adalah universal karena mahasiswa bukan lagi siswa  yang hanya menunggu  di suap ilmu dari dosen.  Belajar bisa dimanapaun kapanpun dan dengan siapapun. Teknologi telah  merubah pola dan menggiring kehidupan mahasiswa ke arah yang lebih maju dan taraf kehidupan sosial yang lebih tinggi. 

Namun  seringkali kita tidak kritis terhadap kemajuan itu. Ketidak kritisan itu diakibatkan karena dosen masih banyak yang mengekang gerak mahsiswa untuk menemukan jati dirinya. Jika perubahan sosial terjadi maka perubahan metode mengajar terhadap mahasiswa  pun sudah sepatutnya berubah. Buku mata pelajaran di era dikital sekarang ini  sudah tidak lagi  dijadikan satu-satunya sumber referensi karena buku-buku dalam bentuk digital sudah bertebaran di internet dan tinggal proses pemanfaatannya oleh mahasiswa.

Dosen selalu saja dijadikan sumber sentral sebagai penanaman pendidikan terhadap mahasiswa. Namun juga sebaliknya mahasiswa juga  bukan student sentral dalam pembelajaran. Tetapi dosen dan mahasiswa di era digital ini sudah sepatutnya menjadi subjek dalam sebuah pembelajaran.  Hal ini dikarenakan tntangan kita bukan lagi manusia, bukan lagi pemerintahan yang otoriter tetapi tantangan kita adalah lingkungan sosial sebagai  dampak dari perkembangan teknologi.

Realitas objektif memerlihatkan bahwa metode pendidikan yang di praktikan oleh dosen terhadap mahasiswa ini tidak ada  perubahan sama sekali. Dosen hanya memahami kewajibannya sebagai dosen tetapi tidak memahami hak mahasiswa sebagai pembelajar. Hal ini berakibat pada pola pikir dosen yang selalu memaksakan kehendaknya dalam sebuah pembelajaran. Mahasiswa tidak diberi kebebasan untuk bereklorasi di luar kampusnya, padahal kehidupan realitslah, pendidikan yang sesunguhnya dipelajari oleh mahasiswa. Dosen  sudah dalam metode pembelajaran mengunakan Problem posing of education atau pendidikan hadap masalah. Pola pembelajaran seperti inilah yang sudah seharusnya  diterapkan oleh dosen di kampus. Mereka sama-sama belajar, menganalisis dan mengidentifikasi realitas objektif bukan hanya fokus pada persoalan teori, karena sesungguhnya teori itu bisa akan bermanfaat jika dihadapkan pada relaitas objektif sebagai titik persoalan. Dosen selalu menggunakan teori Rasionalitas teknokratik. Diamna dalam hal ini dosen menekankan pada kepentingan yang bersifat idealis-utopis, atau apa yang disebut dengan what is, atau apa yang disebut dengan what should dan can be. Akibatnya, nilai-nilai korporasi yang lebih pragmatis-teknis dikedepankan sementara nilai-niali moral-etis terpnggirkan.

Dosen selalu menganggap dirinya berkuasa. Anggapan seperti itu  bagi saya sudah kuno dan alot dan hanya akan menimbulkan dosen yang absolutisme. Dosen sudah sepatutnya memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk mengikuti setiap kegiatan kemahasiswaan ataupun kegiatan sosial yang berada diluar kampus. Salah satu dari kegiatan yang membangun polaberfikir mahasiswa adalah organisasi eksternal dan internal kampus. Terkadang dosen absolut selalu berfikir pragmatis terhadap organisasi eksternal kampus yang padahal organisasi eksternal kampus sama-sama punya orientasi yang jelas.  Bahkan penelitian membuktikan tingkat intelektual mahasiswa yang ikut organisasi dengan yang tidak ikut organisasi ini lebih tinggi mahasiwa yang ikut aktif dalam kegiatan organisasi dari pada mahasiswa yang kupu-kupu.

Dosen masuk kedalam mahasiwa dan selolah-olah kendali  mahasiswa ini ada di tangan dosen. Sampai pada persoalan politik mahasiswa dosen turut ikut campur. Apa mungkkin tidak ada persoalan poltiik yang lebih elit selain ikut campur dengan persoalan politik mahasiswa,? Mahasiswa yang ikut organisasi ekternal kampus selalu dianggap menajadi ancaman bagi dsoen. Tidak tau kenapa. Mungkin  takut bahwa intelektualnya terkalahkan oleh  mahasiswanya. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama