Iklan

 

Ilustrasi/pixabay.com


Tuliskan apa yang ingin kamu tuliskan, jangan langsung menilainya, nanti penilainya di akhir. Tulis ajh dulu apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kamu biar orang tahu ada berapa banyak kosa kata dalam kepalamu itu,kata Dosen Almarhum Neli Wachyoudi

Kenapa Saya Harus Menulis tentang Diri Saya? 

       Alasannya kenapa harus menulis tentang diri saya, karena saya menyadari karakter saya seperti apa. Saya menyadari meskipun saya belajar tentang berbagai aliran filsafat, dengan berbagai jenis aliran pemikiran seperti aliran rasionalisme, empirisme, marxsisme, kantiansme dan lain sebagainya itu bukan karakter saya. Saya menemukan karakter dalam diri saya melalui filsafat. Dalam filsafat ada sebuah aliran pemikiran eksisensialisme, saya lupa tokohnya siapa tapi yang pasti hal itulah kenapa saya harus menulis buku tentang diri saya sendiri. Apalagi tulisan ini judulnya tentang diri saya pribadi, mungkin agak sedikit aneh tapi ada maknanya yaitu artinya saya mencoba mengungkap dan merefleksikan tentang diri saya sendiri. Semoga jadi inspirasi ....

          Bukan hanya saya yang mungkin secara tidak sadar termasuk orang yang seperti itu, mungkin teman saya juga, apalagi sekarang era teknologi melalui media sosial orang apa-apa pasti di uplod di media sosial, tentang apa yang dilakukannya mungkin yang tidak di uplod hanya mandi saja itu pun di beberapa web site tertentu banyak orang yang memposting dirinya sedang mandi, kamu tahulah itu apa. Jadi intinya ada semacam rasa belum puas kalau kita punya media sosial tapi tidak di post di media entah itu berupa tulisan, atau pun berupa video. Tapi intinya kita harus toleran, jangan menilai orang lain buruk hanya dari salah satu sudut pandang saja karena kita tidak tau yang kita anggap tidak berguna atau tidak mungkin sesuatu itu berguna bagi mereka tapi tidak untuk kita. Contohnya tadi banyak orang yang senang uplod semua aktivitasnya di sosial media, nah itu secara psikologis menurut saya bermanfaat bagi dirinya karena ada semacam kepuasan tersendiri disitu ketika orang memposting kehidupannya.

   Ya itulah zamannya digital semua akitivitas kita hampir semuanya di posting si sosial media. Bukan biar keliatan keren atau apa? Kita lantas tidak bisa mengatakan kita yang tidak uplod kehidupan kita sendiri kemudian orang lain tidak tahu, mereka ternyata tahu. Why? Jadi ceritanya begini saya ngobrol dengan salah satu teman saya namanya Iwan, dia mengatakan kepada saya bahwa gerak gerik kita itu tersensor oleh hanphone kita sendiri. Jadi ternyata hanphone kita untuk yang ada kamera depannya itu meskipun hanphone kita dalam keadaan mati itu kameranya hidup dan mensensor kita. Tapi jangan langsung percaya karena saya pun tidak tahu itu benar atau tidak yang pasti dia mengatakannya demikian.

          Kembali pada pembahasan kita kenapa saya buat buku tentang diri saya sendiri. Pertama sebetulnya saya lagi belaja nulis, karena sejauh ini saya merasa bahwa saya sulit sekali mengembangkan diri saya di tulis menulis, kalau di ibaratkan masakan kangkung yang diambil dari sawah saya, tulisan saya itu belum ada rasa, tulisan saya belum ada bumbunya itu mungkin karena kebingungan saya sendiri ketika menuliskan suatu tulisan tersebut dan alhasil pembaca juga jadi bingung alurnya seperti apa dan apa informasi apa yang ingin disampaikan si penulis. Jadi semoga pembaca dapat maklum bahwa saya hanya ingin belajar menulis, jujur saya merasa sakit hati ketika saya dihina didepan banyak orang oleh senior saya sendiri kalau tulisan saya itu buruk, tidak mengalir bahkan ia mengatakan tidak benilai. Tapi saya akan jadikan itu sebagai motivasi.

          Mudah-mudahan pembaca tidak beranggapan kalau tulisan saya ini tidak bernilai hanya karena judulnya nama saya sendiri. Itu sebetulnya hanya untuk eksistensial dari buku ini, sejujurnya dalam perjalanan saya dari kecil hingga sekarang dipenuhi oleh dinamika kehidupan yang cukup memilukan bahkan saya bisa sekolah hingga perguruan tinggi saja rasanya tidak mungkin, tapi itulah kebesaran tuhan kita tidak ada yang tidak mungkin ketika allah berkehendak maka tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikannya. Demikian semoga pembaca mendapatkan banyak pembelajaran dari kisah saya dalam buku ini. Akhir kata saya ucapkan selamat membaca ….***

Filosofi Nama

          Ada istilah tak kenal maka tak sayang. Ungkapan itu terdengar klasik tapi lumayan asyik jika diungkapkan saat mengisi sebuah acara dimana kita mejadi pembicara untuk yang pertamakalinya. Ya, setidaknya audiens tersenyum dengan ucapan ktia itu. Tapi menurut saya di era digital seperti sekarang ini yang paling tepat untuk diungkapkan adalah “Tak Kenal Maka Tak Tahu,”. Bukan berarti kita tak sayang,  justeru karena kita tak tahu jadi tak sayang. Di era digital saat ini banyak orang kenal tapi mereka tak tahu. Ini pengalaman saya sendiri saat pertama kali membuat akun sosial media facebook, dulu belum ada What App. Setelah punya akun facebook disitulah saya punya banyak teman, saya cek teman saya sampe ribuan, tapi itu tak kenal semua.

          Biasanya ketika saya mengikuti kegiatan seperti pengkaderan di sebuah organisasi atau dalam acara dialog public atau kegiatan lainnya seperti seminar atau pelatihan ketika kita akan bertanya kita akan akan disuruh memperkenalkan diri kita sendiri, Nah disitulah salah salah satu pentingnya eksistensi. Pada saat memperkenalkan diri kita kepada orang lain, bayangkan dalam sebuah seminanr yang tidak hanya dihadiri oleh dua atau tiga orang tapi puluhan orang, terkadang kita gemetar berkeringat padahal itu hanya perkenalan. Ini bukan soal mental kalau seperti dalam ilmu psikologi tapi intinya ini soal eksistensi bahwa lewat perkanlan itulah orang bisa tahu diri kita, atau minimalnya nama kita sendiri. Nah begitupun lewat tulisan ini saya ingin berkenalan.

          Nama saya Suardi, tidak ada panjangannya. Jujur terkadang saya ngiri kepada orang lain yang punya nama lengkap panjang. Tidak tahu kenapa, tapi menurut saya orang yang punya nama panjang itu keren, padahal mungkin bagi sebagian orang biasa saja bahkan terbilang ribet kalau namanya kepanjangan. Mungkin ini juga kenapa pemerintah Jokowi mengatur nama di KTP untuk warganya memakai nama panjang atau namanya tidak boleh memiliki makna konotasi negatif yaitu supaya pemerintah yang ngurusi itu tidak ribet. Selanjutnya, diceritakan oleh ibu saya kenapa nama saya hanya suardi saja tidak ada nama panjangannya, jadi ternyata saya diberi nama bukan oleh orang tua saya tapi melainkan oleh sodara atau dalam bahasa di kampung disebut dulur. Ketika saya lahir saya tidak disaksikan oleh bapak saya, maklumlah bapak saya sibuk mencari rupiah demi rupiah, jadi ketika ibu saya melahirkan saya, saya disaksikan oleh sodara dari ibu sekligus diadzaninya. Saat itulah sodara saya mengusulkan nama Suardi.

          Di usia yang sudah lumayan besar saya bertanya kepada ibu saya “Suardi itu apa maknanya?” tanya saya. Tapi Ibu saya menjawab tidak tahu. Saya pun kemudian penasaran ingin tahu apa arti dari nama saya itu apalagi saat itu saya mendengar dari ceramah kyai kalau nama itu adalah doa. Akhirnya saya dapat jawaban arti nama saya itu dari internet dan nama saya itu memang identik dengan jawa, karena pemberian nama dalam masyarakat jawa selau diawali dengan “Su” contohnya seperti nama Sukarno, Suharto, Supriyadi, Sutrisno, Suharmi, Suparno, atau Susilo. “Su” berasal dari bahwa Sanksekerta yang artinya sangat, lebih, selalu, paling, unggul dan terbaik. Sedangkan kata “Ardi” itu berasal dari baha Arab, Jawa dan Latin artinya Gunung, bumi, tanah, modern, baru, terbaru, bersinar, terbakar. Itulah seputar filosofi nama saya, saya tidak ingin menyimpulkannya apalagi mengakui nama kalau saya memiliki filosofi yang bagus. Intinya meskipun banyak yang mengatakan nama adalah doa tapi manusia itu dilihat dari keluhuran budi atau akhlaknya. ***

Masa Kanak-Kanak

      Setiap orang pasti memiliki masa kanak-kanak yang berbeda-beda, karena tergantung lingkunganya kita dimana. Lingkungan tentu berperan penting dalam pembentukan kepribadian anak, baik secara sosial, maupun mental. Sebagai contoh kenapa tarzan dalam sinetron televisi dikisahkan sebagai anak yang terkadang gerak geriknya seperti binatang, itu karena ia hidup di hutan, hidup di lingkungan binatang, berbagai jenis binatang disitu ada, dari kecil yang ia lihat adalah binatang, ada gajah, harimau, monyet, dan masih banyak binatang lainnya. Jadi wajar jika perilaku tarzan itu seperti perilaku binatang. Tapi secara hakikat ia adalah manusia, dan yang namanya manusia seperti apapun dia sebelumnya melalui pengalaman lingkungannya yang baru, ia akan tumbuh sempurna layaknya seperti manusia pada umumnya.

          Itu hanya sebatas contoh saja, karena kehidupan tarzan mungkin hanya ada dalam mitos belaka, tapi yang pasti kehidupan masa kanak-kanak saya tidaklah seperti tarzan meskipun di lingkungan tempat saya tinggal itu jauh dari keramaian. Jangankan keramaian seperti sekarang ini, bahkan listrik pun zaman masa kanak-kanak itu belum ada. Ya, saat itu sekitar tahun 2000an listerik di kampung saya belum ada. Warga di kampung saya masih menggunakan lampu damar sebagai cahaya penerang saat malam. Sekarang lampu damar mungkin sudah tidak ada, lampu damar itu dibuat dari kaleng susu bekas kemudian diberi sumbu dan palit di bagian atas kaleng yang sudah di isi minyak tanah lalu kemudian dinyalakan apinya. Dulu warga di kampung saya menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar dari lampu damar. Lampu damar digunakan saat makan malam umpamnya, atau saat belajar ngaji.

            Masa kanak-kanak saya menyatu dengan alam dihabiskan bermain di hutan (kebun), sawah, dan air. Kalau diibaratkan gambaran sekarang mungkin mirip seperti anak warga baduy, tapi anak warga baduy meskipun mereka ada larangan untuk tidak menggunakan teknologi mereka tahu betul dengan perkembangan teknologi sekarang. Masa saya berbeda, saya tidak tahu banyak hal soal keadaan diluar sana, ini mungkin juga ditambah karena usia saya saat itu masih kecil, sehingga tidak begitu memiliki perhatian tehadap lingkungan luar. Waktu bermain saya tidak bisa dilepaskan dari alam, dari semenjak mulai bisa berjalan saya selalu dibawa-bawa ke sawah atau ke kebun oleh orang tua saya. Jika tidak bersama teman saya yang lain bermain sendiri, seperti saya suka membuat lubang di tanah yang seolah itu goa, atau saya membuat senjata mainan seperti golok, atau bedil-bedilan dari kayu dan bambu yang pelurunya diambil dari buah laja, (sekarang dipakai untuk rempah masakan). Hal itulah yang biasa saya lakukan, yang kadang dilakukan bersaama teman saya yang lain yang seumuran dengan saya.

          Aktivitas lain yang saya lakukan ketika kecil adalah mencari ikan atau burung di hutan. Memancing, atau nyome, dan nawu. Nyome bagian dari teknik menangkap ikan tapi sangat rumit untuk dijelaskan. Sedangkan Nawu adalah istilah yang biasa dilakuan di air untuk mendapatkan ikan dengan cara membuat bendungan hingga airnya surut. Aktivitas itu hampir setiap hari saya lakukan di kebun, dan sawah. Tak hanya itu, bahkan saya bisa membuat alat tangkap ikan sederhana seperti bubu, bubu itu alat penangkap ikan tradisional yang dibuat dari lidi aren, atau dari bambu yang dibuat kecil-kecil seperti lidi. Nah, saya belajar sendiri membuat bubu, bahkan hingga sekarang saya masih ingat betul teknik pembuatannya. Kalau di era sekrang kita bisa menemukan bubu di rumahnya warga baduy, atau yang ada di depan musium multatiuli yang dijadikan hiasan atau pajangan.

Masa Sekolah

          Saya mulai mengenyam pendidikan formal sekitar tahun 2004 masuk Sekolah Dasar (SD) Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 2010, Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 2013 dan Perguruan Tinggi di STKIP Seta Budhi Rangkasbitung tahun 2017. Untuk SD, SMP dan SMA saya tempuh di daerah saya yaitu Kecamatan Cileles Kabupaten Lebak. Sedangkan untuk perguruan tinggi yaitu di Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Provinsi Banten. Dari pendidikan formal inilah yang mungkin bisa sedikit tahu banyak hal. Oleh karena itu pendidikan bagi saya menjadi salah satu pengalaman yang amat berharga dalam hidup saya, mungkin tanpa pendidikan saya akan lebih gelap dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Saya sangat bersyukur bisa menemupuh itu sampai dengan selesai dan semua itu bisa terwujud karena berkat doa dan usaha orang tua saya, sedangkan saya sendiri sebagai penikmat dalam bersekolah. Bagi saya nikmat, karena masa-masa itulah saya harusnya merasa senang karena masa itu tidak punya beban, tugas kita hanya belajar, belajar dan belajar. Tapi ini pikiran saya yang sekarang dulu tetap yang namanya sekolah sangatlah malas.

          Tepat di usia tujuh tahun saya diantar sekolah oleh orang tua saya. Terlihat dari raut wajah kedua orang tua saya ada harapan berharap kelak anaknya ini bisa bisa menjadi orang sukses. Saya termasuk anak yang pendiam saat itu, tapi mungkin bukan hanya saya anak yang lainnya pun ada yang pendiam. Disinilah awal mula saya mengenal huruf, menulis, menghitung dan membaca. Saya masih ingat betul guru saya saat itu bernama Ibu Sarmini. Beliau menurut saya sosok guru yang paling penyabar dari guru yang lainnya, memiliki perhaitan yang lebih terhadap anak muridnya. Tapi, bukan berarti guru yang lainnya tidak peduli mungkin lebih kepada caranyalah yang berbeda.

          Orang tua saya memiliki perhatian lebih terhadap pendidikan, meskipun ibu saya hanya lulusan SD dan Bapak hanya lulusan SD kelas tiga. Maksud saya bapak saya tidak lulus SD sama sekali, ia harus berhenti sekolah dan memilih menjadi seorang pemuda yang mengabdikan diri untuk lahan yang digarapnya. Tapi bapak juga memiliki perhatian lebih terhadap pendidikan. Hal itu tercermin dalam setiap nasihat dan cara mendidiknya. Meskipun saya mengakui bahwa pola didik zaman dulu memang keras, terlebih Ibu saya yang terkadang saya menyebutnya cerewet. Berdosa sekali, tapi itu masih kecil semoha tuhan memakluminya.

           Hampir setiap hari saya belajar ketika saya pulang sekolah jika ibu saya ada di rumah. Pulang sekolah saya biasanya langsung ditanya soal pelajaran yang diajarkan di sekolah. Pokonya semacam tes ujian yang jika saya tidak bisa menjawabnya Ibu selalu ngomel. Apalagi ketika ada Pekerjaan Rumah (PR) ibu saya dengan sigap mengajari saya, hal itu bukan semata-mata tak ada tujuan, itu adalah bentuk kasih saying orang tua pada anaknya agar anaknya menjadi cerdas dan pintar.

          Ternya pola didik seperti itu telah membawa keberhasilan saat kenaikan kelas, meskipun bukan peringkat pertama, kedua atau ketiga setidaknya ibu bangga karena saya peringkat keempat dari jumlah siswa sebanyak 60 orang. Ini menjadi momen pertama yang lumayan membanggakan. Tahun demi tahun saya lalui selama menjadi siswa SD di SDN 1 Cikareo yang ada di desa saya hingga akhirnya saya lulus, meskipun peringkat saya selama sekolah SD naik turun. Kurang lebih enam tahun saya jalan kaki dengan jarak 3 kilo dari rumah, yang kemudian dilanjut SMP 3 tahun, itu juga kadang-kadang harus jalan kaki. Rasa ingin menyerah tapi meskipun berat akhirnya saya lulus.

          Tidak ada momen yang mengharukan selama saya SMP karena saya saat itu termasuk siswa yang biasa-biasa saja. Di usai menginjak remaja kurang kelas tiga SMP saya mulai bekerja untuk menambah jajan sendiri. Saat itu pulang sekolah saya tidak langsung pulang tapi menjadi pelayan toko milik paman saya di pasar. Lulus SMP 2013, kemudian lanjut SMA yang jaraknya lumayan jauh dari rumah sekitar 25 kilo meter. Diawal tahun pertama masuk SMA saya sembari mondok di salah satu kampung yang dekat dengan sekolah. Tapi akhirnya proses mondok itu tidak berlangsung lama, satu tahun pun belum sekitar 6 bulan saya berhenti dan memilih untuk pulang pergi dari rumah ke sekolah, tapi saat itu saya sudah punya kendaraan motor.

          Banyak yang mengatakan masa-masa SMA adalah masa yang indah di sekolah, tapi tidak dengan saya, masa-masa SMA bagi saya tidak ada bedanya dengan sekolah SMP atau SD. Mungkin sedikit yang membedakannya hanya di kedewasaan, jadi kalau SMP dan SMP sudah menyukai lawan jenis sedangkan SD belum, itulah yang membedakannya. Selama SMA saya termasuk siswa yang biasa-biasa saja, bahkan saya kurang begitu peduli pada pendidikan, meskipun dalam hati kecil saya, sebenarnya saya dulu pas SD sangat rajin belajar,” ucapku dalam hati. Tapi entah lah, pada masa SMA saya benar-benar malas sekali yang namanya belajar.***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama