![]() |
| Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia |
Mengaku sbagai pengikut Aswaja seharusnya kita sadar betul hal ini. Tapi kita sombong, Aswaja hanya ada dalam pikiran kita, tapi tidak ada dalam amaliah kita. Para pencetus Aswaja tidak benar-benar kita jadiakan mazhab dan manhaj.
Manhaj harokah artinya metode atau cara bagaimana bertindak benar dan bersikap benar. Kadang apa yang menurut kita benar berpatok pada senior kita, apa yang dinamakan tidak beradab itu menurut senior kita. "Kamu suul adab, kamu tidak tadziman watakhriman," misalnya.
Seharusnya manhaj harokah itu sudah melekat dalam jiwa kita, minimalnya bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari dalam berorganisasi yaitu apa yang dinamakan amal soleh, intelektual, profesional, kejujuran, keadilan, kebenaran. Minimalnya kita bisa memberi contoh kepada generasi selanjutnya.
Jika kita sendiri tidak pernah menerapkan apa itu (dzikir, pikir, amal soleh), (taqwa, intelektual, profesional), (kejujuran, keadilan, kebenaran) dalam berorganisasi, minimalnya dari hal sederhana, maka kita tidak akan maju apalagi besar. Semakin kita jauh dari manhaj harokah tersebut maka apa yang menjadi tujuan kita tidak akan terwujud.
Selama ini kita terlalu sering melakukan sesuatu seenaknya apa yang menurut diri kita benar, atau seniornya benar, kita tidak pernah mencari "ibroh" dari sejarah dan belajar apakah sesuatu yang kita anggap benar itu, ada sanad atau tidak. Jangan sampai sesuatu itu benar, tapi tidak benar secara logika (ilmiah) bahkan ajaran agama, namun benar tersebut hanya menurutnya karena kepentingannya.
Perlu dipahami sanad itu seperti halnya daftar pustaka dalam suatu karya ilmiah, apabila tidak ada sanad (daftar pustaka) maka ucapan benar itu perlu diragukan. Penting untuk diketahui karya tulisan bisa disebut ilmiah atau tidak karena ia memiliki daftar pustaka atau sanad. Sama halnya dalam berbicara benar, dan adab jangan sampai benar menurut diri kita sendiri.
Kenapa hal ini bisa terjadi? karena kita tidak pernah membaca, belajar dari yang memberikan tauladan dan pemikiran contoh (Aysariyah dan Maturidiyah), kita juga tidak pernah belajar dari perjuangan empat Imam syariah (Hanafi, Maliki, Sayafii dan Hanbali), dan kita juga tidak pernah belajar adab dan akhlak dari (Al-Ghozali dan Junaedi Al-Baghdadi).**
.jpeg)