![]() |
| ilustrasi hypebeast/pixabay.com |
Perkembangan teknologi digital membawa pengaruh besar terhadap semua aspek kehidupan tak terkecuali fenomena gaya hidup seseorang di media sosial. Munculnya berbagai media sosial, seperti Instagram, Twitter, Facebook, TikTok dan lain sebagainya turut pula melahirkan fenomena sosial hybeast.
Mungkin ada yang baru mendengar kata "hypebeast". Hybeast adalah fenomena yang menggambarkan kegilaan seseorang pada trens fashion. Seorang hyper (sebutan untuk anak hybeast) akan membeli pakaian-pakaian dengan brand-brand ternama untuk dapat terlihat stylish dan kekinian.
Secara sosiologis lahirnya fenomena hybeast tidak terlepas dari adanya peran media sosial. Media sosial seolah mampu menghegemoni seseorang untuk menampilkan citra diri yang bukan dirinya yang sebenarnya. Dalam hal ini individu mengalami apa yang disebut sebagai hyperrealitas.
Menurut Baudrilard, hiperrealitas adalah fenomena hilangnya perbedaan antara yang nyata (real) dan palsu (imajinary) (Ika Maisaroh, 2018). Produk fashion ternama dihadirkan melalui iklan dengan bintang tamu atau aktor ternama yang lekat dengan citra glamour.
Hal ini sengaja dilakukan untuk membentuk realitas baru yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan keadaan sebenarnya. Hal demikian itulah yang akhirnya diterima sebagai realitas yang sebenarnya oleh seorang hyper.
Melahirkan Konsumerisme
Haypebeast dapat melahirkan gaya hidup konsumerisme. Seorang hyper akan memakai dan membeli produk-produk hanya dari brand-brand ternama dengan harga yang fantastis dan tentunya original. Produk dari brand-brand tersebut tentunya hanya diproduksi dalam jumlah yang terbatas.
Sebagai contoh Supereme. Supereme merupakan salah salah satu brand yang digunakan oleh mereka yang mengaku hyper. Mereka tak segan untuk mengeluarkan uang dalam jumlah yang menurut orang awam mungkin tidak wajar hanya untuk satu buah kaos atau jaket misalnya.
Lahirnya fenomena hypebeast merupakan sebuah representasi bagaimana sebuah produk memiliki nilai dan simbol tertentu. Seorang hyper akan berusaha membentuk citra dirinya melalui brand-brand ternama yang ia kenakan. Dalam usaha membentuk citra dirinya inilah akhirnya individu terjebak dalam konsumerisme.
Konsumerisme menunjukan dimana dalam pembelian produk-produk dengan brand ternama tidak lagi berdasarkan atas faktor kebutuhan dan fungsinya melainkan lebih untuk memenuhi hasrat (desire), keinginanya agar mendapat prestise, kehormatan dan identitas tertentu di dalam masyarakat.
Dalam hal ini individu terjebak oleh kontruksi sosial glamour melalui brand ternama yang sesungguhnya sengaja memproduksi kebutuhan semu. ***
